Sebenarnya ini renungan buat 5 Februari 2012 sih, tapi lupa diposting... hahahahaha...
SIAPAKAH AKU?
Matius 16 13-20
Alkisah suatu ketika, Yesus menanyakan sebuah pertanyaan sederhana kepada murid-muridnya, "Kata orang, siapakah aku ini?". Pertanyaan mngenai siapa Yesus ini adalah pertanyaan yang terus menerus ditanyakan dan terus menerus dijawab. Siapa Yesus itu adalah pertanyaan abadi yang memusingkan banyak pihak baik orang Kristen maupun bukan Kristen.
Pada saat itu, muridnya menjawab, bahwa menurut orang, yesus itu adalah Yohanes Pembaptis yang hidup lagi, Elia, Yeremia atau salah satu dari para nabi.
Saat ini, banyak pendapat orang mengenai Yesus. Ada yang berkata bahwa Yesus adalah nabi ke-sekian, ada yang bilang Yesus adalah guru yang baik, ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah tokoh manusia terbesar didalamnya, ada yang bilang Yesus reinkarnasi ini itu. Intinya berbagai orang dan aliran telah berusaha menjawab siapa Yesus itu menurut pemahaman mereka masing-masing.
SIAPA YESUS? adalah sebuah pertanyaan yang penting, karena jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan bagaimana seseorang menempatkan bersikap terhadap Yesus dalam kehidupan seharihari dan dalam kerohanian mereka. Ateis percaya bahwa Yesus adalah manusia biasa, Skeptik percaya bahwa Yesus tidak pernah ada ciptaan manusia, Islam percaya bahwa Yesus adalah seorang nabi yang besar, Kristen percata bahwa Yesus adalah Kristus Putra Tunggal Allah yang Kekal, Mesias Juruselamat Manusia. Saya tidak akan mempermasalahkan hal ini pada kesempatan ini.
Yang mau saya sorot adalah: terkadang kita menjawab siapa Yesus tersebut bukan atas pemahaman dari kita sendiri tapi karena kita 'menjiplak' jawaban orang lain. Kita 'mencontek' apa kata Pendeta kita, kata kakak rohani kita, kata teman kita, kata teologiawan A, kata teologiawan B, kata si ini kata si itu. Walaupun kita mendapat pengajaran yang benar mengenai siapa itu Yesus, walaupun kita sudah seringkali membaca Alkitab, namun seringkali kita masih tidak mempunyai pemahaman dan pengenalan yang benar akan Yesus. Intinya adalah bahwa seringkali jawaban tersebut bukan berasal dari kita. Bukan ini yang diinginkan TUHAN.
TUHAN menghendaki jawaban, "SIAPAKAH AKU?" bukan dari apa kata orang lain, atau hanya dari sesuatu yang kita dengar, tapi dia ingin jawaban tersebut berasal dari pengenalan pribadi kita akan Yesus. Iman itu bukanlah sesuatu yang Blind trust (hanya percaya saja tanpa tahu apa-apa) kita berjalan saja tanpa tahu di depan kita ada apa. Iman Kristen adalah kepercayaan yang dapat melihat, Mungkin kita tidak tahu didepan kita ada apa, tapi kita percaya karena walau kita tidak kenal jalannya di hadapan kita, kita mengenal penuntun jalan kita dan dia sudah memberikan gambaran seperti apa jalan di hadapan kita. Iman kita bukan pada sesuatu yang tidak nyata namun pada sesuatu yang ada, nyata dan benar. Pengenalan akan Yesus adalah dasar dari IMAN kita. Kristologi (pengenalan akan Kristus) yang benar adalah dasar dari seluruh Teologi Kristen.
Jadi, Yesus sedang bertanya pada kita, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
Simon bin Yunus yang juga mempunyai nama lain Petrus atau Kefas, adalah salah seorang murid pertama Yesus. Dia sudah bersama Yesus sejak sejak Yesus pertama kali melakukan pelayanannya di dunia. Dia sudah sering melihat Yesus melakukan mukjizat. Dia sudah sering mendengarkan pengajaran Yesus. Dia sudah melihat 'orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepda orang miskin diberitakan kabar baik.' Simon sudah melihat pengajaran dan pekerjaan Yesus, dia mempunyai pengenalannya sendiri secara pribadi akan Yesus. Siapakah Yesus menurut Simon?
"Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang Hidup." Ini adalah jawabannya yang idasarkan atas pengenalan Simon akan pribadi Yesus.
Jadi siapakah Yesus menurut Anda? Jangan gunakan jawaban dari teologiawan, jangan gunakan jawaban dari siapapun juga, coba gunakan jawaban Anda sendiri. Siapakah itu Yesus?
Kalau Anda sudah menjawab siapa itu Yesus, seberapa jauh pengenalan Anda kepadanya?
Kalau Anda masih tidak tahu atau tidak kenal atau tidak bisa menjawabnya, coba bacalah Alkitab, bacalah catatan pekerjaan, catatan pelayanan, catatan pengajaran, catatan penebusan yang terdapat dalam Injil. Bacalah apa kata para rasul mengenainya. Apa kata orang-orang yang diubahkan setelah mengenal-Nya. Karena Anda tidak mungkin menjawabnya kalau Anda belum banyak mengenal-Nya bukan?
Setelah itu coba Anda renungkan dan berdoalah pada Allah (karena pada akhirnya Allah-lah yang menganugerahkan pernyatakan siapa itu Yesus pada Simon).
Jadi apa jawaban yang Anda temukan? Bukan perkataan saya, bukan pula perkataan orang lain, tapi sesuatu yang berasal dari pengenalan pribadi Anda akan Yesus.
Jadi, siapa Yesus itu?
Kumpulan cerita-cerita dan kisah-kisah, mulai dari yang masuk akal hingga yang hilang akal, mulai dari pemikiran pribadi hingga situasi politik ekonomi terkini. Semuanya ditulis oleh penulis amatir, mahasiswa abadi, dan dokter koas yang tak jelas kapan lulusnya Chung Andirius.
Tampilkan postingan dengan label yesus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yesus. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 Februari 2012
Label:
alkitab,
iman,
injil,
kefas,
kekristenan,
kristem,
penginjilan,
petrus,
siapa saya,
siapakah yesus itu,
simon,
yesus
Minggu, 05 Februari 2012
Renungan 29 Januari: SIAPAKAH SESAMAKU?
Ringkasan Khotbah Minggu Ini, semoga ga salah...
Siapakah Sesamaku?
Ayat Perenungan: Yohanes 4:1-42
Cara kita memandang seseorang menentukan cara kita memperlakukannya.
Terkadang kita dengan semena-mena menghakimi dan memvonis orang lain itu berdosa, menjelek-jelekkan atau menyindir dan menyudutkan orang lain akan kesalahannya haya karena hal2 yang kita dengar dari orang lain maupun karena kita lihat sekilas.
Ada 3 hal yang mempengaruhi bagaimana cara kita memandang orang lain:
1. Jebakan stereotipe. Baik stereotipe jabatan, ras atau lain-lain. Kita seringkali menggolongkan orang2 ke dalam beberapa kelompok manusia baik berdasarkan uku, ras, agama atau lain2 dan kita mencantumkan serangkaian label-label seakan-seakan semua anggota dari kelompok tersebut akan bertindak dan bersikap seperti label-label yang kita 'paksakan'. Misalnya orang suku A suka ngayun2kan clurit, orang suku B pelit, orang suku C pemalas. Ini adalah hal yang salah! dan ngaco dan sangat tidak alkitabiah...
2. Prejudice alias prasangka. Seringkali sebelum kita mengenal orang kita telah memasangkan terlebih dahulu 'label2' hanya berdasarkan penampilan luar, perkataan awal atau lain2 tanpa mengetahui seperti apa sih isinya. Sama seperti kita mengatakan suatu produk makanan kaleng enak atau tidak hanya berdasarkan kemasan tanpa pernah mencoba isi dalam kalengnya. Hal ini juga salah, ngaco dan tidak alkitabiah.
3. Trend sosial. Kita menilai seseorang karena semuaorang lain juga menilainya demikian. Betulkah pola pikir yang seperti ini? Jawabannya tentu saja tidak, mengapa? karena orang lain saja benar. Gosip itu seperti kromosom bakteri, mudah mengalami mutasi dan degradasi informasi. Si A bilang ke si B: "Toko di sebelah bau busuk."; si B ke C: "Toko sebelah busuk, kurang bersih"; C ke D: "Toko sebelah ga bersih, jangan beli." dan seterusnya hingga akhirnya menjadi: "Toko sebelah jual makanan busuk." Hati2, gosip itu dapat menyesatkan dan disesatkan. Jangan jadikan persepsi sosial menjadi satu2nya tolak ukur menilai seseorang. Itu salah, ngaco dan tidak alkitabiah.
Homo Homini Lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Kalau manusia merasa bahwa orang itu adalah bagian dari 'kawanan'nya maka ia akan membelanya, namun seandainya dia merasa orang lain 'bukan kawanan'nya maka halal untuk dimangsa. Dalam hal ini manusia tak kalah malah lebih ganas dari bintang terbuas sekalipun. Mengapa karena terdapat salah persepsi mengenai bagaimana memandang dan memperlakukan orang lain.
Manusia itu tidak sempurna dan seringkali berbuat salah dan dosa, namun seringkali juga manusia membesar-besarkan masalah, kesalahan dan dosa orang lain. Memberikan 'label', mencibir, melempar cacian dan sebagainya. Haruskah demikian?
jawabnya tidak, mari kita berkaca kepada tokoh yang selalu dapat memberikan panutan pada kita dan menjadi teladan dalam hal ini: Kristus Yesus.
TUHAN melihat sesuai proporsi yang ada: Tidak mengganggap seolah-olah wanita Samaria tersebut tidak berdosa namun juga tidak membesar-besarkan dosa wanita tersebut.
Mari kita telaah sebentar perihal wanita tersebut:
1. Dia telah menikah 5 kali. Mengapa bisa sedemikian banyak? Bisa saja karena dia diceraikan atau suaminya mati, jangabn kita vonis 'zinah'. TUHAN Yesus tahu hal ini, namun bukan ini yang dia permasalahkan. Oleh sebab itu Yesus menjawab penjelasan wanita tersebut bahwa dia tidak memiliki suami adalah "Benar." bukan "Salah."
2. Dia tinggal dengan pria dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan. Inilah kesalahan wanita tersebut, mengapa wanita tersebut tinggal serumah dengan pria tanpa menikah? Mungkin karena wanita tersebut susah mendapat persetujuan (siapa yang mengizinan kerabatnya menikah dengan wanita yang dah nikah 5 kali?) atau karena tidak direstui atau hal yang lain2. Namun tetap saja ini adalah pelanggaran dan inilah yang ditunjukan oleh Yesus kepada wanita Samaria tersebut.
Kita dapat belajar 2 hal dari Yesus:
1. Semua orang perlu mendapatkan kasih karunia dari TUHAN. Tidaklah heran Yesus memulai percakapan dengan kata 'kasih karunia'. Orang berdosa sekalipun perlu kasih karunia, maka dari itu kita perlu menunjukkan kepada mereka bagaimana bentuk kasih karunia tersebut. Gandhi pernah kecewa dengan orang Kristen di Afrika Selatan, mengapa? Karena mereka menganggap bahwa orang kulit hitam dan orang India tidak pantas mendapatkan kasih karunia. Ini adalah hal yang salah, TUHAN menerbitkan mataari untuk orang jahat dan baik, terlebih lagi anak TUHAN, harus menunjukkan kasih karunia kepada semua orang tanpa terkecuali.
2. Memperhatikan pergumulan orang lain. TUHAN Yesus tahu bahwa wanita tersebut mempunyai permasalahan dalam kehidupan perikahannya di mana wanita tersebut sudah menikah 5 kali dan sekarang tinggal dengan orang tanpa menikah. Dia tidak menghakimi wanita tersebut namun dia menunjukkan bahwa dia mengetahui dan mengerti permasalahan wanita itu. Di sini ada pengertian aspek empatik. Dalam hubungan manusia terkadang kita memperlakukan orang lain sbegai obyek dan kita sebagai subyek, sehingga terkadang kita tidak perduli... Seharusnya kita memperlakukan orang lain sebagai subyek juga seperti diri kita sendiri.
Jadi mari kita renungkan:
1. Apakah kita sering memperlakukan orang lain hanya karena kita memandang dia rendah atau jelak tau lain2 tanpa mengetahui duduk garis besarnya?
2. Apakah kita sering membesar2kan masalah orang lain? Menggosipkannya ke orang lain?
3. Apakah kita sering 'membuat' masalah bagi sesama kita akibat cara kita memperlakukan atau memandang orang lain?
Kita sudah tahu apa yang harus kita perbuat jadi seperti kata Yesus: "PERGILAH DAN BERBUATLAH DEMIKIAN."
Siapakah Sesamaku?
Ayat Perenungan: Yohanes 4:1-42
Cara kita memandang seseorang menentukan cara kita memperlakukannya.
Terkadang kita dengan semena-mena menghakimi dan memvonis orang lain itu berdosa, menjelek-jelekkan atau menyindir dan menyudutkan orang lain akan kesalahannya haya karena hal2 yang kita dengar dari orang lain maupun karena kita lihat sekilas.
Ada 3 hal yang mempengaruhi bagaimana cara kita memandang orang lain:
1. Jebakan stereotipe. Baik stereotipe jabatan, ras atau lain-lain. Kita seringkali menggolongkan orang2 ke dalam beberapa kelompok manusia baik berdasarkan uku, ras, agama atau lain2 dan kita mencantumkan serangkaian label-label seakan-seakan semua anggota dari kelompok tersebut akan bertindak dan bersikap seperti label-label yang kita 'paksakan'. Misalnya orang suku A suka ngayun2kan clurit, orang suku B pelit, orang suku C pemalas. Ini adalah hal yang salah! dan ngaco dan sangat tidak alkitabiah...
2. Prejudice alias prasangka. Seringkali sebelum kita mengenal orang kita telah memasangkan terlebih dahulu 'label2' hanya berdasarkan penampilan luar, perkataan awal atau lain2 tanpa mengetahui seperti apa sih isinya. Sama seperti kita mengatakan suatu produk makanan kaleng enak atau tidak hanya berdasarkan kemasan tanpa pernah mencoba isi dalam kalengnya. Hal ini juga salah, ngaco dan tidak alkitabiah.
3. Trend sosial. Kita menilai seseorang karena semuaorang lain juga menilainya demikian. Betulkah pola pikir yang seperti ini? Jawabannya tentu saja tidak, mengapa? karena orang lain saja benar. Gosip itu seperti kromosom bakteri, mudah mengalami mutasi dan degradasi informasi. Si A bilang ke si B: "Toko di sebelah bau busuk."; si B ke C: "Toko sebelah busuk, kurang bersih"; C ke D: "Toko sebelah ga bersih, jangan beli." dan seterusnya hingga akhirnya menjadi: "Toko sebelah jual makanan busuk." Hati2, gosip itu dapat menyesatkan dan disesatkan. Jangan jadikan persepsi sosial menjadi satu2nya tolak ukur menilai seseorang. Itu salah, ngaco dan tidak alkitabiah.
Homo Homini Lupus: Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Kalau manusia merasa bahwa orang itu adalah bagian dari 'kawanan'nya maka ia akan membelanya, namun seandainya dia merasa orang lain 'bukan kawanan'nya maka halal untuk dimangsa. Dalam hal ini manusia tak kalah malah lebih ganas dari bintang terbuas sekalipun. Mengapa karena terdapat salah persepsi mengenai bagaimana memandang dan memperlakukan orang lain.
Manusia itu tidak sempurna dan seringkali berbuat salah dan dosa, namun seringkali juga manusia membesar-besarkan masalah, kesalahan dan dosa orang lain. Memberikan 'label', mencibir, melempar cacian dan sebagainya. Haruskah demikian?
jawabnya tidak, mari kita berkaca kepada tokoh yang selalu dapat memberikan panutan pada kita dan menjadi teladan dalam hal ini: Kristus Yesus.
TUHAN melihat sesuai proporsi yang ada: Tidak mengganggap seolah-olah wanita Samaria tersebut tidak berdosa namun juga tidak membesar-besarkan dosa wanita tersebut.
Mari kita telaah sebentar perihal wanita tersebut:
1. Dia telah menikah 5 kali. Mengapa bisa sedemikian banyak? Bisa saja karena dia diceraikan atau suaminya mati, jangabn kita vonis 'zinah'. TUHAN Yesus tahu hal ini, namun bukan ini yang dia permasalahkan. Oleh sebab itu Yesus menjawab penjelasan wanita tersebut bahwa dia tidak memiliki suami adalah "Benar." bukan "Salah."
2. Dia tinggal dengan pria dalam satu rumah tanpa ikatan pernikahan. Inilah kesalahan wanita tersebut, mengapa wanita tersebut tinggal serumah dengan pria tanpa menikah? Mungkin karena wanita tersebut susah mendapat persetujuan (siapa yang mengizinan kerabatnya menikah dengan wanita yang dah nikah 5 kali?) atau karena tidak direstui atau hal yang lain2. Namun tetap saja ini adalah pelanggaran dan inilah yang ditunjukan oleh Yesus kepada wanita Samaria tersebut.
Kita dapat belajar 2 hal dari Yesus:
1. Semua orang perlu mendapatkan kasih karunia dari TUHAN. Tidaklah heran Yesus memulai percakapan dengan kata 'kasih karunia'. Orang berdosa sekalipun perlu kasih karunia, maka dari itu kita perlu menunjukkan kepada mereka bagaimana bentuk kasih karunia tersebut. Gandhi pernah kecewa dengan orang Kristen di Afrika Selatan, mengapa? Karena mereka menganggap bahwa orang kulit hitam dan orang India tidak pantas mendapatkan kasih karunia. Ini adalah hal yang salah, TUHAN menerbitkan mataari untuk orang jahat dan baik, terlebih lagi anak TUHAN, harus menunjukkan kasih karunia kepada semua orang tanpa terkecuali.
2. Memperhatikan pergumulan orang lain. TUHAN Yesus tahu bahwa wanita tersebut mempunyai permasalahan dalam kehidupan perikahannya di mana wanita tersebut sudah menikah 5 kali dan sekarang tinggal dengan orang tanpa menikah. Dia tidak menghakimi wanita tersebut namun dia menunjukkan bahwa dia mengetahui dan mengerti permasalahan wanita itu. Di sini ada pengertian aspek empatik. Dalam hubungan manusia terkadang kita memperlakukan orang lain sbegai obyek dan kita sebagai subyek, sehingga terkadang kita tidak perduli... Seharusnya kita memperlakukan orang lain sebagai subyek juga seperti diri kita sendiri.
Jadi mari kita renungkan:
1. Apakah kita sering memperlakukan orang lain hanya karena kita memandang dia rendah atau jelak tau lain2 tanpa mengetahui duduk garis besarnya?
2. Apakah kita sering membesar2kan masalah orang lain? Menggosipkannya ke orang lain?
3. Apakah kita sering 'membuat' masalah bagi sesama kita akibat cara kita memperlakukan atau memandang orang lain?
Kita sudah tahu apa yang harus kita perbuat jadi seperti kata Yesus: "PERGILAH DAN BERBUATLAH DEMIKIAN."
Label:
gereja,
iman,
januari,
kerohanian,
khotbah,
kristen,
minggu,
renungan,
ringkasan,
samaria,
siapakah sesamaku,
yesus,
yohanes
Langganan:
Postingan (Atom)